Tampilkan postingan dengan label Cerita Pendek. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Cerita Pendek. Tampilkan semua postingan

Jumat, 13 Desember 2013

Berburu Harta Karun di Gudang

Ini hari Minggu pagi. Matahari sudah menampakkan sinarnya yang cerah dari tadi. Namun, Nini dan Nana masih bermalas-malasan di tempat tidur. 
“Malas sekali rasanya bangun,” kata Nana kepada Nini kembarannya.
“Iya, apalagi kemarin kita batal pergi ke rumah Nenek. Hu uh …,” jawab Nini.
“Eit, pagi-pagi jangan bersungut-sungut. Nanti hilang rejeki kalian,” kata Ayah yang ternyata sudah berada di ambang pintu kamar mereka.
“Memang sudah hilang kan, Yah? Kita batal ke rumah Nenek kemarin karena Ibu mesti membantu Oma Wijaya yang masuk rumah sakit,” ujar Nana. 
Rencana mereka untuk menghabiskan akhir pekan di rumah Nenek batal. Oma Wijaya, tetangga mereka, masuk rumah sakit siang kemarin karena tekanan darahnya melonjak. Oma Wijaya tinggal sendirian. Jadi, kemarin waktu Oma Wijaya harus dirawat di rumah sakit, Ibulah yang membantunya. Sejak semalam Ibu menemani Oma Wijaya.

Rabu, 27 November 2013

Pilihan Tono


Sore ini Tono berjanji akan bermain ke rumah Roni. Tadi di sekolah Roni mengatakan ayahnya pulang dari tugas luar kota dan membawa beberapa mainan. “Ayolah main ke rumahku, Ton. Nanti kita main bersama,” ajaknya. Tentu saja Tono tidak menolak. Keduanya memang bersahabat karib dan sering bermain bersama. Bergantian mereka saling mengunjungi dan bermain bersama. 

Jam dinding ruang tengah menunjukkan pukul empat kurang lima belas. Tono telah mandi dan bersiap ke rumah Roni.

“Kau mau ke mana?” tanya Ibu saat melihat Tono hendak mengeluarkan sepedanya.
“Ke rumah Roni, Bu,” jawabnya.
“Loh, bukankah hari ini kamu janji mau menemani adikmu ke toko alat tulis?” tukas Ibu. Adik Tono, Riri, perlu membeli pensil warna. Riri yang masih duduk di TK A sedang gemar menggambar. Kemarin pensil warnanya habis, jadi ia perlu membeli lagi. Tono berjanji akan mengantarnya ke toko alat tulis sore ini. “Itu Dik Riri sudah selesai mandi. Sebentar lagi dia pasti mencarimu untuk diantar beli pensil warna.”

Senin, 11 November 2013

Ketika Ipang Ragu



 Ipang ragu-ragu mendengar kata-kata Doni dan Teguh.
“Ayo Pang, terima saja. Masak hanya kami berdua yang beruntung, hehehehe,” Doni berkata sambil nyengir. Bundelan kertas itu disorongkan ke dada Ipang.
“Jangan takut Pang. Kalau nanti ada yang bilang kamu dapat bocoran soal, pasti kupukul. Nih, lihat otot-ototku. Pothok!” Teguh memamerkan otot-otot lengannya sambil berlaga bak binaragawan. Memang semua teman Ipang takut sama Teguh. Ia jago berkelahi meskipun nilai-nilai ulangannya jauh di bawah Ipang.

“Ayolah Pang. Sekali-kali jangan jujur terus. Kalau ada kesempatan agar ulangan besok kita dapat nilai bagus, mengapa tidak?” bujuk Doni.
Ipang berpikir, besok memang ujian Matematika dan IPA. Dua pelajaran yang sangat sulit bagi mereka semua. Seluruh teman Ipang khawatir apakah bisa mengerjakan ujian dengan baik. Dan di tangan Doni sekarang ada bocoran soal ujian untuk esok hari. Jika Ipang menerima bocoran itu, lalu mencari jawabannya nanti malam, ah … besok pasti bisa mengerjakan ujian.
“Baiklah Don. Kuterima soal-soalnya,” kata Ipang akhirnya.
“Nah, begitu dong. Tapi ingat syaratnya: jangan bilang siapa-siapa kalau aku dan Teguh punya soal bocoran. Ingat ya. Awas, kalau sampai ada orang tahu …” kata Doni “… aku yang pertama kali memukulimu. Kalau perlu sampai kamu mohon ampun,” ancam Teguh.
“Iya .. iya,” Ipang menjawab sambil menerima kertas soal.
***