“Gio, kenapa mukamu basah gitu?” tanya Rilan.
“Ini aku sengaja cuci muka. Kamu tahu kan, tadi aku dimarahi lagi karena ketiduran di kelas. Ngantuk banget. Benar-benar malas rasanya,” jawab Gio.
““Wah, kamu tadi ketiduran waktu pelajaran IPA ya? kok bisa ketiduran sih? Padahal kan tadi bu guru sedang cerita tentang bagaimana bumi terbentuk. Asyik banget lhoo …. Apa semalam kamu tidak tidur?”
“Semalam aku malah tidur cepat. Tapi tadi rasanya suara bu guru malah membuatku jadi semakin mengantuk. Mataku jadi berat banget, Rilan.”
“Wah, dulu aku juga pernah seperti itu lho waktu pelajaran Matematika. Walaupun malam sudah tidur nyenyak, tetap saja aku merasa mengantuk. Nah, kalo aku jadi ngantukan gitu, tandanya aku sedang bosan. Apa belakangan ini kamu juga sedang bosan, Gio?”
“Ah, iya Rilan. Aku tuh bosan banget mendengar penjelasan bu guru. Rasanya nggak penting! Buat apa sih kita tahu tentang bagaimana bentuk bumi? Aku tidak suka menghafalkan ukuran bumi dan macam-macam itu tadi. Bosaaaan!!!” jelas Gio sambil mengucek-ucek matanya yang masih mengantuk.
“Bosan itu emang nggak enak banget rasanya! Dulu aku juga pernah begitu. Rasanya tidak penting deh belajar penjumlahan dalam Matematika. Eh, tapi sebenarnya bosan itu bisa kita kelola lho. Sekarang ini aku sudah tidak gampang mengantuk lagi saat pelajaran.”
![]() |
| Lukisan Archimedes karya Domenico Fetti, 1620 |
“Oya? Apa yang kau lakukan?”
“Aku belajar dari Archimedes!”
“Hah? Siapa dia? Anak baru, ya? Kelas berapa? Aku kok belum kenal ya.”
“Ha ha, … bukan, Gio. Archimedes itu orang yang pintar sekali. Dia adalah salah satu tokoh dunia yang berjasa di bidang ilmu pengetahuan. Archimedes-lah yang menemukan berbagai rumus penting yang sekarang ini kita pelajari. Waktu seumuran kita, Archimedes senang sekali belajar. Hmm … tapi zaman Archimedes kecil itu beda banget lho sama sekarang. Waktu itu belum ada sekolah, bahkan belum ada kertas atau buku untuk menulis seperti sekarang.”
“Lho, jadi bagaimana cara Archimedes belajar? Dia belajar di mana kok bisa jadi pintar?” tanya Gio penuh selidik.
“Archimedes sering diajak jalan-jalan oleh ayahnya. Mereka berkeliling dan melakukan pengamatan-pengamatan. Mereka mengamati sebatang pohon dan mempelajari bagaimana daun-daun dan cabang-cabang bergoyang ditiup angin. Archimedes mengamati bahwa gerakan daun yang berguguran berbeda satu sama lain, tergantung kuat lemahnya angin. Kalau malam, Archimedes sering diajak mengamati bintang di langit. Ayahnya sendiri yang menunjukkan dan memberi tahu nama dan posisi sekumpulan bintang padanya. Begitulah cara Archimedes belajar mengenai alam. Mungkin itu sama seperti waktu kita belajar IPA.”



